Kue

Salah seorang pasien saya, seorang pengusaha yang sukses, bercerita bahwa sebelum terserang
kanker, dia selalu merasa tertekan kecuali semua hal berjalan sebagaimana mestinya. Kebahagiaan
adalah mendapatkan “kue”. Jika kamu mempunyai “kue”, hari menjadi indah. Jika tidak, hidup adalah
kutukan. Sialnya, tidak ada seorang pun yang bisa mendapatkan “kue” setiap hari. “Kue” itu juga
berubah-ubah. Kadang-kadang “kue” itu berbentuk uang, kadang kekuasaan, kadang wanita. Pada
saat lain, ia berubah menjadi mobil baru, kontrak besar, rumah di lingkungan elit, dan sebagainya.
Satu setengah tahun setelah pengusaha itu didiagnosis menderita kanker prostat, dengan sedih dia
berkata, “Saya seakan-akan telah berhenti mempelajari bagaimana cara untuk hidup sejak saya
masih kecil. Ketika saya memberikan kue kepada anakku, dia senang. Jika saya merampas kembali
kue itu darinya, dia akan sedih. Tetapi dia baru berumur dua setengah tahun dan saya sudah empat
puluh tiga. Dibutuhkan waktu yang lama untuk menyadari bahwa ‘kue’ apa pun tidak akan pernah
membuatmu bahagia. Pada saat kamu memiliki ‘kue’ kamu mulai kuatir suatu saat ia akan hilang atau
orang lain akan mencurinya darimu. Kamu tahu, kamu harus memberikan banyak hal untuk menjaga
‘kue’mu. Bahkan kamu mungkin tidak akan sempat memakannya karena kamu sudah cukup sibuk
untuk menjaganya. Mempunyai ‘kue’ bukanlah tujuan hidup.”
Pasien saya itu tertawa dan berkata bahwa kanker telah merubah hidupnya. Untuk pertama kalinya
dia bisa merasa bahagia, tidak perduli apakah bisnisnya berjalan lancar atau tidak, tidak perduli
apakah dia memenangkan permainan golf atau kalah.
“Dua tahun lalu, kanker bertanya padaku, ‘Oke, apa yang penting? Apa yang benar-benar penting?’
Baiklah, yang penting itu adalah hidup. Hidup. Hiduplah dengan segala cara yang bisa kamu miliki.
Hiduplah dengan ‘kue’. Hiduplah tanpa ‘kue’. Kebahagiaan tidak ada hubungannya dengan ‘kue’.
Kebahagiaan berhubungan dengan menjadi hidup.”
Dia berhenti sejenak dan merenung, kemudian melanjutkan:
“Demi Tuhan, saya rasa hidup itu adalah ‘kue'”

  1. 22 Februari 2013 pukul 2:05 am

    thanks

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: