Beranda > Pengalaman Umum > Isteriku, Matahariku

Isteriku, Matahariku

Oleh Muh. Fajar Pramono*)
 
Saya pernah ditinggal istri seharian untuk mengikuti suatu acara.
Acaranya memang bermanfaat, baik untuk istri saya maupun untuk kepentingan umat.
Konsekuensinya saya harus momong lima anak mulai dari yang besar
11 tahun sampai si bungsu 2,5 tahun. Kebetulan hari itu nenek mereka
sedang sibuk dan anak-anak pun sedang  libur sekolah.
 
Agenda yang saya lakukan pertama kali adalah memonitor apakah
anak pertama dan kedua sudah mandi. Lalu saya membantu anak ketiga dan
keempat untuk mandi sekaligus memandikan si bungsu. Berikutnya adalah
makan pagi. Alhamdulillah, lauk dan nasi sudah disediakan istri sebelum
ia berangkat. Anak pertama sampai ketiga sudah biasa makan sendiri,
tapi  anak keempat dan kelima ini harus saya suapi. Jangan harap mereka
duduk manis saat saya suapi, saya malahan ikut berlarian kesana kemari
mengejar si kecil untuk makan. Saat akan disuapi pun mereka akan berebut siapa yang harus disuapi lebih dulu.
 
Agenda berikutnya adalah membersihkan rumah. Anak pertama mendapat
tugas mencuci piring, sedangkan adiknya hari itu membersihkan halaman dan ruang tamu. Saya sendiri merapikan kamar tidur dan lain-lain seperti yang biasa dilakukan isteri. Sedangkan anak ketiga, keempat dan kelima asyik bermain-main. Satunya berlari-lari, yang lain main bongkar pasang dan satunya lagi bermain dengan anak tetangga. Namanya anak-anak, bermain selalu saja dihiasi dengan tangisan akibat berebut mainan yang terbatas jumlahnya. Belum lagi soal  baju bersih yang berubah kotor saat dipakai  bermain.
 
Saat urusan bersih-bersih rumah usai, tahu-tahu waktu sudah menjelang
siang. Berarti persiapan shalat dhuhur dan makan siang harus dilakukan.
Alhamdulillah nasi dan sayurnya masih ada, walaupun lauknya sudah
habis. Kebetulan masih ada telur. Tinggal goreng saja, pikir saya. Akhirnya saya menggoreng ceplok telur. Hasilnya lumayan walaupun sedikit gosong. Makannya seperti tadi pagi. Saya kembali mengejar kedua anak saya yang masih balita untuk disuapi. Baru kemudian dilanjutkan acara sholat dzuhur dan istirahat siang.
 
Semua pekerjaan tetap bisa tertangani walaupun hasilnya tidak maksimal
sebagaimana jika istri ada di rumah. Anak-anak juga tetap mandi, makan,
bermain dan tidur siang di rumah walaupun tidak seceria saat ibunya ada
di rumah. Rumah dan peralatan dapur juga bisa dibersihkan, tetapi
memang tidak sebersih dan seasri ketika istri di rumah. Anak-anak juga tetap bisa menjalankan shalat, sekalipun ayahnya tidak bisa menjalankan
sholat berjama’ah di Masjid. Saya juga masih bisa mengerjakan tugas-tugas rutin (mengajar di Pesantren), tapi tidak senyaman dibandingkan ketika ibunya anak-anak di rumah.
 
Pengalaman itu membawa saya pada pemahaman bahwa keberadaan istri itu
penting. Bukan semata-mata sebagai ibu rumah tangga saja tapi lebih
kepada cahaya dalam keluarga, sesuatu yang melahirkan  motivasi, rasa aman, kenyamanan dan keceriaan dalam satu keluarga. Keadaan ini memberikan jawaban untuk saya mengapa keluarga tanpa ibu terkesan suram  atau juga kenyataan bahwa seorang anak lebih tidak siap ditinggal oleh ibunya dibandingkan oleh ayahnya.
 
Begitu pentingnya makna kehadiran istri shalihah dalam satu rumah
tangga membuat saya sadar bahwa di balik setiap orang besar seperti
Rasulullah SAW ada istri yang mendukungnya.
 
Saya pernah ditanya oleh seorang teman,” Apakah Anda ingin nikah lagi?”
Saya menjawab,”Belum berpikir dan hingga sekarang tidak pernah berpikir
ke arah sana.” Bukan berarti anti, apalagi mengharamkannya.
 
Jawaban saya ini jujur dari hati saya yang paling dalam. Alasannya,
pertama, istri saya telah memberikan kontribusi kebaikan yang sangat
banyak dalam rumah tangga ini. Kedua, bagi saya  keluarga itu merupakan
susunan yang terdiri dari unsur-unsur kenangan, komitmen, emosi, cita-cita, markas atau pangkalan, labuhan dan sejarah. Jadi tidak bisa dirubah atau digantikan atau disempurnakan begitu saja oleh unsur lain kecuali dengan unsur yang yang ada di dalamnya. Kalau toh ada program menikah lagi, ide bukan dari saya tetapi dari istri dan tentunya berdasarkan hasil musyawarah dengan anak-anak. Karena merekalah yang akan merasakan dampak langsung, baik yang positif maupun yang negatif.
 
Suatu kedzoliman manakala dalam diri kita muncul pikiran untuk
menyia-nyiakan istri atau memberikan apresiasi yang rendah terhadap perkerjaan isteri. Ditinggal satu hari saja saya sudah kerepotan menghadapi pekerjaan rumah tangga dan anak-anak. Istri menghadapi hal itu seperti itu bukan sehari dua seperti saya, tapi sudah menjadi rutinitas. Sedikit pun ia tidak pernah mengeluh. Suatu kedzaliman pula jika sebagai suami, begitu pelit untuk memberi hadiah atau penghargaan, sekalipun hanya sebuah ucapan terima kasih, maaf atau kata-kata menyenangkan lainnya. Apalagi jika diingat-ingat lagi perjuangan untuk mendapatkan istri saya yang sekarang juga bisa dibilang tidak ringan.
 
Semoga tidak berlebihan jika saya mengatakan dalam berbagai kesempatan
bahwa istri ibarat matahari. Ia bersinar, menerangi dan menghangatkan
setiap jiwa yang ada di dalam rumah. Karenanya, tetaplah bersinar wahai
matahariku!
 
 
 

*) Dosen pada  Institut Studi Islam Darussalam

——————————————————————————————————-

benar benar pengalaman yang indah. isteriku matahari ku.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: