Arsip

Archive for Juni, 2010

Keajaiban Hamba ALLAH SWT

22 Juni 2010 2 komentar

Seorang rekan yang mengaku mengalami berbagai keajaiban bercerita banyak pada saya. Bagaimana keluarganya menganggap bahwa do’a yg dia panjatkan pasti diterima Allah. Bagaimana isterinya, penganut salah satu tarekat, jika berdo’a sudah bisa merasakan apakah do’a ini terkabul atau tidak.

Rekan lain juga bercerita bagaimana dia mengalami keajaiban. Ketika dia berdo’a agar termasuk mereka yang berhati emas, tiba-tiba dia melihat langit berwarna keemasan dan tetesen emas itu bagaikan jatuh ke bumi.

Entahlah, apakah pengalaman rekan-rekan saya tersebut benar-benar terjadi atau tidak. Saya hanya khawatir dua hal:

1. Kita berubah menjadi riya’ ketika kita menceritakan hal-hal itu. Saya khawatir kita justru tidak mendapati keajaiban lagi ketika hati kita telah tergelincir pada riya’.

2. Kita beribadah karena mengejar keajaiban; bukan semata-mata karena Allah. Kita baca wirid sekian ribu kali, dengan harapan bisa menghasilkan keajaiban, apakah tubuh yg kebal, terungkapnya hijab (kasyaf) dan lainnya. Kita jalani sholat sunnah ratusan rakaat juga demi mengejar “keanehan-keanehan”. Kita jalani ritus-ritus itu hanya karena ingin mencapai ma’rifat (yang sayangnya dikelirukan sebagai memiliki keajaiban).

Yang lebih celaka lagi, ketika kita mendapat keajaiban tiba-tiba kita mengklaim bahwa Tuhan sangat dekat dengan kita sehingga status kita naik menjadi wali. Sayang, setelah “merasa” menjadi wali, kita lupakan aspek syari’ah. Konon, bagi mereka yang mencapai aspek ma’rifat tidak perlu lagi menjalankan aspek syari’at.

Entahlah, saya yang merasa belum naik-naik maqamnya dari status awam hanya bisa merujuk kisah Nabi Zakariya dan Siti Maryam. Nabi Zakariya diberi anugerah putera, padahal dia sudah tua dan isterinya mandul. Setelah mendapat keajaiban ini, Allah memerintahkan pada-Nya, “Sebutlah nama Tuhan-mu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari” (Qs 3: 41) Maryam pun mendapat keajaiban berupa putera (padahal dia tidak pernah “disentuh” lelaki). Namun setelah Allah memberitahu tingginya kedudukan Maryam, Allah menyuruh Maryam, “Ta’atlah kepada Tuhan-mu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ (Qs 3: 43)

Ternyata, hamba Allah seperti Nabi Zakariya dan Siti Maryam pun tetap tidak meninggalkan aspek syari’at meskipun telah memiliki keajaiban.

Berkenaan dengan keajaiban, Abu Sa’id, sufi besar abad 10 dan 11 Hijriah, pernah bertemu orang yang menceritakan sejumlah keajaiban “wali”.

Orang itu berkata, “dia bisa terbang… “

Abu Sa’id menjawab, “ah… tak aneh… burung saja bisa terbang”

Yang aneh justru adalah mereka yang mengaku-aku wali dan sufi sambil mendemonstrasikan “keajaibannya”. Wali dan Sufi sejati tak butuh pengakuan orang lain akan ke-waliannya. Wali dan sufi sejati tak akan pernah meninggalkan aspek syari’at, meski telah mencapai maqam ma’rifat.

——————————

dari berbagai sumber …….

Iklan

Melemparkan diri agar tidak jatuh dalam dosa

22 Juni 2010 Tinggalkan komentar

MAKA ALLAH GANTI DENGAN KEBAIKAN

Pada masa Bani Israil ada seorang pemuda yang ketampanannya tidak tertandingkan. Dia bekerja sebagai penjual keranjang dari pelepah kurma. Pada suatu hari, saat dia berkeliling dengan membawa keranjang dagangannya, ada seorang wanita yang keluar dari rumah seo­rang raja Bani Israil.

Demi melihatnya, si wanita dengan cepat masuk kembali ke dalam rumah untuk membertahukan pada putri raja: “Di pintu tadi saya melihat seorang pemuda yang menjual keranjang, tak pernah saya melihat pemuda setampan dia.” Sang putri ber­kata: “Suruh dia masuk.” Si wanita tadi keluar dan mengajak masuk pemuda itu. Setelah dia masuk, pintu dikunci rapat. Lalu datanglah sang putri menemuinya dengan wajah dan bagian lehernya terbuka. Maka si pemuda berkata: “Hai, tutuplah (auratmu), semoga Allah memaafkanmu!” Dengan terus terang si wanita menjawab: “Kami tidak memanggilmu untuk membeli daganganmu, akan tetapi untuk melakukan sesuatu.” Si wanita pun mulai menggoda dan merayunya. Sementara pemuda itu berkata: “Takutlah kamu kepada Allah,” sang putri malah mengancam: “Bila kau tidak mengikuti keinginanku, aku akan beritahukan kepada raja bahwa kau masuk untuk memaksa diriku berbuat macam-macam.” Kemudian pemuda itu mengajukan permintaan: “Tolong sediakan untukku air untuk berwudhu.” Jawab sang putri: “Oh rupanya kau masih mencari alasan ?! Hai pembantu, tolong sediakan untuknya air wudhu di atas mahligai itu,” sebuah tempat yang tidak mungkin pemuda itu bisa kabur dari situ.

Setelah pemuda itu tiba di mahligai, dia berdo’a: “Ya Allah, sungguh aku sekarang telah dijak untuk bermaksiat kepadaMu, tetapi aku memilih untuk melemparkan diri dari atas mahligai ini keluar kamar dan tidak jatuh dalam perbuatan dosa.” Kemudian dia membaca basmalah lalu melemparkan dirinya. Saat itu pula Allah menurunkan malaikatNya yang memegang kedua ketiak pemuda itu sehingga dia jatuh dalam keadaan berdiri di atas kedua kakinya. Ketika sampai di tanah dia berkata: “Ya Allah, bila Engkau berkehendak, karuni­akanlah kepadaku rizki hingga aku tak perlu lagi berdagang keranjang-keranjang.”

Allah mengabulkan do’anya. Allah mengirimkan untuknya sekawanan belalang yang terbuat dari emas, maka diambilnya sampai bajunya terisi penuh. Setelah itu dia berkata:”Ya Allah, bila ini merupakan rizki yang Engkau karuniakan kepadaku dari dunia ini, maka karuniakanlah untukku keberkahan di dalamnya. Tapi, bila rizki ini akan mengurangi jatahku yang tersim­pan di sisiMu di akhirat nanti, maka aku tidak membutuhkannya.” Tiba-tiba terdengar suara yang mengatakan bahwa ini hanyalah satu dari dua puluh lima bagian pahala atas kesa­baranmu menanggung derita saat melemparkan dirimu dari tempat yang tinggi itu.

Lalu dia berkata: “Kalau begitu ya Allah, aku tidak membutuhkan sesuatu yang nanti akan mengurangi jatahku yang ada padaMu di akhirat.” Maka diambillah kembali emas-emas itu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

—————————————

dari ber bagai sumber …….

MEMBUKA PINTU SORGA

22 Juni 2010 Tinggalkan komentar

Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.

Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. “Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun.”Fatimah menyahut sambil tersenyum, “Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta’ala.” “Terima kasih,” jawab Ali. Matanya memberat lantaran istrinya begitu tawakal. Padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.

Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat berjama’ah. Sepulang dari sholat, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. “Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?”

Áli menjawab heran. “Ya betul. Ada apa, Tuan?”

Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, “Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya.”

Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.

Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.

Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, “Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.” Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.

Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dalam senyum, berkata, “Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita.”

—————————————

dari berbagai sumber ……

MENINGGALKAN YANG HARAM maka keluarlah aroma minyak kesturi

22 Juni 2010 Tinggalkan komentar

Ada seorang pemuda yang kerjanya menjual kain. Setiap hari dia memikul kain-kain dagangan­nya dan berkeliling dari rumah ke rumah. Kain dagangan pemuda ini di kenal dengan nama “Faraqna” oleh orang-orang. Walau pun pekerjaannya sebagai pedagang, tetapi pemu­da ini sangat tampan dan bertubuh tegap, setiap orang yang melihat pati menyenanginya.

Pada suatu hari, saat dia berkeliling melewati jalan-jalan besat, gang-gang kecil dan rumah-rumah penduduk sambil berteriak menawarkan dagangannya : “faraqna-faraqna”, tiba-tiba ada seorang wanita yang melihatanya. Si wanita itu memanggil dan dia pun menghampirinya. Dia dipersilakan masuk kedalam rumah. Di sini si wanita terpesona melihat ketampanannya dan tumbuhlah rasa cinta dalam hatinya. Lalu si wanita itu berkata : “Aku memanggilmu tidak untuk membeli daganganmu tetapi aku memanggilmu karena kecintaanku kepadamu. Dan dirumah ini sekarang kosong. ” Selanjutnya, si wanita ini membujuk dan merayunya agar mau berbuat sesuatu dengan dirinya. Pemuda ini menolak, bahkan dia mengingatkan si wanita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menakut-nakuti dengan azab yang pedih di sisiNya. Tetapi sayang, nasehat itu tidak membuahkan hasil apa-apa, bahkan sebaliknya, si wanita makin berhasrat.

Dan memang biasa, orang itu senang dan penasaran dengan hal-hal yang dilarang… Akhirnya, karena si pemuda ini tidak mau melakukan yang haram, si wanita malah mengancam, katanya: “Bila engkau tidak mau menuruti perintahku, aku berteriak pada semua orang dan aku katakan kepada mereka, bahwa engkau telah masuk ke dalam rumahku dan ingin merenggut kesucianku. Dan mereka akan mempercayaiku karena engkau telah berada dalam rumahku, dan sama sekali mereka tidak akan mencurigaiku.” Setelah si pemuda itu melihat betapa si wanita itu terlalu memaksa untuk mengikuti keinginannya ber­buat dosa, akhirnya dia berkata: “Baiklah, apakah engkau mengizinkan aku untuk ke kamar mandi agar bisa membersihkan diri dulu ?” Betapa gembiranya si wanita mendengar jawaban ini, dia mengira bahwa keinginannya sebentar lagi akan terpenuhi. Dengan penuh semangat dia menjawab : “Bagaimana tidak wahai kekasih dan buah hatiku, ini adalah sebuah ide yang bagus.”

Kemudian masuklah si pemuda itu ke kamar mandi, sementara tubuhnya gemetar karena takut dirinya terjerumus dalam kubangan maksiat. Sebab, wanita itu adalah perangkap syaitan dan tidak ada seorang laki-laki yang menyendiri bersama seorang wanita kecuali syaitan dari pihak ketiga. “Ya Allah, apa yang harus aku perbuat. Berilah aku petunjukMu, Wahai Dzat yang memberi petunjuk bagi orang-orang yang bingung .”

Tiba-tiba, timbullah ide dalam benaknya.” Aku tahu benar, bahwa termasuk salah satu kelompok yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya pada hari yang tidak ada naungan saat itu kecuali naunganNya adalah seorang laki-laki yang diajak berbuat mesum oleh wanita yang mempun­yai kedudukan tinggi dan wajah yang cantik, kemudian dia berkata: “Aku takut kepada Allah.”

Dan aku yakin bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena takut kepadaNya, pasti akan mendapat ganti yang lebih baik… dan seringkali satu keinginan syahwat itu akan penyesalan seumur hidup… Apa yang akan aku dapatkan dari perbuatan maksiat ini selain Allah akan mengangkat cahaya dan nikmatnya iman dari hatiku… Tidak… tidak… Aku tidak akan mengerjakan perbuatan yang haram… Tetapi apa yang akan harus aku kerjakan. Apakah aku harus melemparkan diri dari jendela ini ? Tidak bisa, jendela itu tertutup rapat dan sulit dibuka. Kalau begitu aku harus mengolesi tubuhku dengan kotoran yang ada di WC ini, dengan harapan, bila nanti dia melihatku dalam kedaan begini, dia akan jijik dan akan membiarkanku pergi.” Ternyata memang benar, ide yang terakhir ini yang dia jalankan. Dia mulai mengolesi tubunya dengan yang ada di situ. Memang menjijikkan. Setelah itu dia menangis dan berkata: “Ya Rabbi, hai Tuhanku, perasaan takutku kepadaMu itulah yang mendorongku melakukan hal ini. Oleh karena itu, karuniakan untukku ‘kebaikan’ sebagai gantinya.”

Kemudian dia keluardari kamar mandi, tatkala melihatnya dalam keadaan demikian, si wanita itu berteriak : “keluar kau hai orang gila!” Dia pun cepat-cepat keluar dengan perasaan takut diketahui orang-orang, jika mereka tahu, pasti akan berkomentar macam-macam tentang dirinya. Dia mengambil barang-barang dagangannya kemudian pergi berlalu, sementara orang-orang ter­tawa melihatnya. Akhirnya dia tiba dirumahnya , di situ dia bernapas lega. lalu menanggalkan pakaiannya, masuk kamar mandi dan mandi membersihkan tubuhnya dengan sebersih-bersihnya.

Kemudian apa yang terjadi ? Adakah Allah akan membiarkan hamba dan waliNya begitu saja ? Tidak… Ternyata, ketiga dia keluar dari kamar mandi, Allah Subhanahu wa Ta’alah memberi­kan untuknya sebuah karunia yang besar, yang tetap melekat di tubuhnya sampai dia meninggal dunia, bahkan sampai setelah dia meninggal. Allah telah memberikan untuknya aroma yang harum semerbak yang tercium dari tubuhnya. Semua orang dapat mencium aroma tersebut dari jarak beberapa meter. Sampai akhirnya dia memdapat julukan “Al-miski” (yang harum seperti kasturi). Subhanallah, memang benar, Allah telah memberikan untuknya sebagai ganti dari kotoran yang dapat hilang dalam sekejap dengan aroma wangi yang dapat tercium sepanjang masa. Ketika pemuda itu meninggal dan dikuburkan, mereka tulis diatas kuburanya “Ini kuburan Al-Misky”, dan banyak orang yang menziarahinya.

Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan membiarkan hambaNya yang shalih begitu saja, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu membelanya, Allah SWT senantiasa membela orang-orang yang beriman, Allah SWT berfirman dalam hadits QudsiNya yang artinya: “Bila dia (hamba) memohon kepadaKu, pasti akan Aku beri. Mana orang-orang yang ingin memohon ?!”

Pembaca yang budiman!

“Setiap sesuatu yang engkau tinggalkan, pasti ada gantinya. Begitu pula larangan yang datang dari Allah, bila engkau tinggalkan, akan ada ganjaran sebagai penggantinya.”

Allah SWT akan memberikan ganti yang besar untuk sebuah pengorbanan yang kecil. Allahu Akbar.

Manakah orang-orang yang mau meninggalkan maksiat dan taat kepada Allah sehingga mereka berhak mendapatkan ganti yang besar untuk pengorbanan kecil yang mereka beri­kan ? ?

Tidakkah mereka mau menyambut seruan Allah, seruan Rasulullah S.A.W dan seruan fitrah yang suci ?!

PANDANGAN YANG JERNIH

22 Juni 2010 Tinggalkan komentar

Pada suatu malam Shafiyah mengunjungi Rasulullah saw. yang sedang beriktikaf di masjid dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ia terpaksa mendatangi suaminya itu karena ada masalah penting yang harus segera dibicarakan. Menjelang masuk waktu isa, ia berdiri hendak pulang dan Nabi mengantarkannya sampai ke pintu masjid.

Mereka berpapasan dengan dua orang sahabat Anshar yang akan melaksanakan salat jamaah. Kedua sahabat itu memberi salam, lantas berlalu dengan cepat. Rasulullah menegur, “Berhentilah sebentar. Yang di sampingku ini Shafiyah, istriku.” Kedua orang sahabat Anshar itu bahkan mengucap, Subhanallah, janda Huyai bin Ka’ab.”

Nabi tahu ke arah mana isi perkataan mereka itu. Ia hanya berdiam diri seraya berpikir. Kalau mereka saja tidak memahami tujuan perkawinannya, apakah lagi umat di kemudian hari? Padahal Khadijah meninggal, tiga tahun lamanya ia menduda. Semua istri berikutnya dinikahi berdasarkan perintah wahyu dan untuk tujuan-tujuan kemanusiaan sehingga seluruhnya adalah janda-janda yang terlunta-lunta kecuali seorang saja, Aisyah. Oleh karena itu dengan sedih Nabi berkata: “Setan itu mengalir di dalam diri manusia mengikuti aliran darahnya. Malahan dijadikannya dada manusia sebagai tempat tinggalnya kecuali orang yang dilindungi Allah.”

Tatkala pada kali yang lain Rasulullah ditanya siapa yang dilindungi Allah itu, ia menjawab, “Mereka yang selalu memohon perlindungan Allah.”

“Siapakah gerangan?” tanya para sahabat pula.”Orang itu adalah yang banyak melakukan kebajikan, ikhlas amalnya dan bersih hatinya.”

Dari kedua peristiwa terpisah yang rasanya saling berkaitan itu, yang perlu kita ketahui adalah, ada hubungan apa antara sabda Nabi yang terakhir tersebut, dengan ucapan kedua sahabat Anshar mengenai Ummul Mukminin, Shafiyah? Untuk itu perlu kita singkap, siapa sebetulnya Shafiyah, yang dinikahi Nabi mendampingi istri-istrinya yang lain itu. Dalam Perang Khaibar, guna menghancurkan kekuatan tentara Yahudi yang selalu melakukan makar jahat terhadap umat Islam dan pemerintahan Madinah, salah seorang korban yang tewas adalah Huyai bin Ka’ab, pemimpin kaum pemberontak itu. Dan Shafiyah adalah istri Huyai. Tidak seorangpun yang bersedia memelihara Shafiyah, padahal nasibnya terlunta-lunta karena waktu itu, masyarakat luas menganggap Yahudi sama najisnya dengan anjing-anjing buduk, akibat kedegilan mereka sendiri. Jadi, tatkala Nabi mengambil Shafiyah menjadi istrinya, hal itu semata-mata untuk memberi keteladanan, betapa seharusnya umat Islam di dalam memandang manusia jangan hanya dengan sebelah mata. Artinya, dengan niat berbuat baik, dengan keikhlasan yang tuntas, dan dengan kebersihan hati yang tulus, manusia harus dilihat secara utuh. Sebab berdasarkan ajaran Islam, tidak ada manusia yang baik secara sempurna sebagaimana tidak ada yang seluruhnya buruk. Dibalik kekuatan ada kelemahan, dibalik kebaikan ada kekurangan. Begitu juga disela-sela kelemahan dan kejelekan, pasti tersimpan pula segi-segi kebajikan pada diri setiap orang.

Jelas bahwa dari satu sisi, pelacur adalah pelacur, pencuri adalah pencuri. Mereka telah melakukan perbuatan yang melanggar susila, norma-norma agama, dan hukum negara. Akan tetapi, jika kita masuk ke dalam bathin mereka, tidak selamanya pelacur sama jahatnya dengan pelacur, pencuri sama jahatnya dengan pencuri, bergantung pada sebabnya. Boleh jadi seorang pencopet yang mati dikeroyok massa, ditangisi anak-anaknya sebagai pahlawan keluarga karena ia melakukan perbuatan buruk itu untuk membeli obat bagi anaknya yang sakit, membeli makanan untuk anak-anaknya yang kelaparan.

Oleh karena itu, meskipun ada ancaman hukum potong tangan bagi para pencuri dan rajam bagi pezina, dalam hidup Nabi belum pernah satupun yang dilaksanakan kecuali atas seorang perempuan Yahudi yang minta diadili berdasarkan hukum Taurat. Untuk itu Nabi bersabda, “Kemiskinan itu mendekatkan manusia pada kekafiran.”

Lima tahun yang lalu, saya kehilangan sebuah mobil, satu-satunya kendaraan saya, pada waktu mengantarkan anak ke stasiun Gambir karena hendak berangkat ke pesantren. Hanya lima belas menit saya berada di peron. Ketika keluar ke pelataran parkir, mobil saya sudah raib. Hari itu juga saya mengirimkan surat pembaca ke tiga surat kabar Ibu Kota.

Saya tulis begini: “Mobil itu saya beli dengan dengan uang tabungan saya dan istri saya. Dan mobil itu saya gunakan untuk berdakwah kemana-mana. Tidak serupiah pun uang haram terdapat dalam pembelian mobil itu. Sengaja saya beli dengan susah payah karena dokter melarang saya menunggang sepeda motor akibat jantung dan paru-paru saya yang sudah rapuh. Jadi, tolong kembalikanlah mobil saya, mudah-mudahan Anda diberkati Allah.”

Tiga hari kemudian ada seseorang yang menelepon saya bahwa mobil itu bisa diambil di belakang Hotel Indonesia pukul tiga petang. Alhamdulilah, telepon itu tidak berdusta. Dan kembalilah mobil saya dalam keadaan `segar bugar’. Saya pun lantas menulis surat pembaca lagi ke tiga surat kabar yang bersangkutan, menyampaikan rasa terima kasih saya setulus-tulusnya kepada pencuri yang `baik hati’ itu.

Bukankah kejadian kecil ini membuktikan bahwa seorang penjahat pun, apabila disentuh hati nuraninya akan tergetar juga? Bahwa suara Tuhan masih mampu menembus tabir dosa yang menyelimuti dada manusia? Sebab setiap malam, Tuhan turun ke langit dunia dan berseru-seru, memanggil para hamba-Nya yang bersedia berlindung dalam pelukan-Nya. Suara-Nya mendayu bersama angin yang semilir, meningkahi titik-titik air yang menetes dari sela-sela jari-jemari kaum Muslimin yang sedang mengambil air wudu.

Dalam hadis Qudsi, firman Allah berbunyi, “Barang siapa mencari Aku, akan Kucari dia. Barang siapa mencintai Aku, akan Kucintai dia. Dan barang siapa meminta ampun kepada-Ku pasti akan Kuampuni dia”

“Oleh sebab itu, tataplah dunia ini dengan hati putih. Pandanglah manusia dengan jiwa bersih. Kadang-kadang yang kauanggap buruk sebetulnya justru baik untuk engkau, sementra yang kaukira baik malahan amat buruk untuk engkau,” ucap Imam Abu Laits, seorang sufi tua kepada para muridnya. Lalu ia pun membacakan sebuah firman Allah tentang keharusan orang beriman untuk memandang sampai jauh ke seberang, di balik yang terlihat, yang teraba, dan yang terasa.

Firman Allah : “Jangan-jangan kamu membenci sesuatu, ternyata ia baik bagimu. Atau mungkin saja kamu mencintai sesuatu, padahal buruk untukmu.” (Al-Baqarah:216)

——————————————–

dari berbagai sumber…..

PEMBANGKANGAN

22 Juni 2010 Tinggalkan komentar

Dikisahkan ada seorang manusia yang bertemu dengan setan di waktu subuh. Entah bagaimana awalnya, akhirnya mereka berdua sepakat mengikat tali persahabatan. Ketika waktu subuh berakhir dan orang itu tidak mengerjakan shalat, maka setan pun sambil tersenyum bergumam, “Orang ini memang pantas menjadi sahabatku..!” Begitu juga ketika waktu dzuhur orang ini tidak mengerjakan shalat, setan tersenyum lebar sambil membatin, ” Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!”

Ketika waktu ashar hampir habis tetapi temannya itu dilihatnya masih juga asik dengan kegiatannya, setan mulai terdiam……

Kemudian ketika datang waktunya magrib, temannya itu ternyata tidak shalat juga, maka setan nampak mulai gelisah, senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat-ngingat sesuatu. Dan akhirnya ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan shalat Isya, maka setan itu sangat panik. Ia rupanya tidak bisa menahan diri lagi, dihampirinya sahabatnya yang manusia itu sambil berkata dengan penuh ketakutan, “Wahai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !”

Dengan keheranan manusia ini bertanya, “Kenapa engkau ingkar janji; bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat ?”.

“Aku takut !”, jawab setan dengan suara gemetar. “Nenek moyangku saja yang dulu hanya sekali membangkang pada perintah-Nya, yaitu ketika menolak disuruh sujud (hormat) pada Adam, telah dilaknat-Nya; apalagi engkau yang hari ini saja kusaksikan telah lima kali membangkang perintah-Nya. Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !”, kata setan sambil ngeloyor pergi.

PENDURHAKA YANG MASUK SURGA

21 Juni 2010 2 komentar

Dahulu, hidup seorang laki-laki durhaka dan fasik dari bani Israil. Penduduk sekitar dimana ia tinggal mengusir lelaki itu agar meninggalkan desa, mereka khawatir dan tidak ingin ikut-ikutan terseret karena kedurhakaan laki-laki itu Allah menurunkan wahyuNya kedapa Musa AS, mengabarkan perihal di atas. Musa mendatangi lelaki itu dan juga turut mengusirnya dari desa tersebut. Laki-laki durhaka itupun angkat kaki dari desanya. Ia pindah ke desa lain, dekat desa tempat ia tinggal sebelumnya. Allah mewahyukan lagi kepada Musa dan Musa mengusir laki-laki itu dari desa tadi.

Akhirnya, laki-laki itu keluar lagi dari desa tersebut dan berjalan tak tentu arah. Ia kemudian memutuskan untuk pergi saja ke sebuah gurun gersang. Disana tidak ada orang tinggal, sehingga tidak mungkin ia diusir lagi dari situ. Ditempat ini, ia jatuh sakit, Ia tergeletak tak berdaya di atas pasir panas.

Penderitaan memang tak tertahankan lagi baginya. Ia mengeluh meratapi nasibnya itu.

“Wahai Tuhan!, andaikata aku dalam pangkuan ibu, maka pastilah ia menyayangiku, ia akan menangisi atas kehinaanku ini.

Andaikata ayahku di sisiku, pastilah ia akan menolongku, memandikanku, mengkafaniku. Andaikata istriku ada di sisiku, pastilah ia menangisi kepergianku.

Andaikata anak-anakku ada disini, pastilah mereka akan menangisi dibelakangku dan berdoa: ‘ Ya Allah, ampunilah orangtuaku yang asing, lemah,suka maksiat, fasik yang di usir dari satu tempat ke tempat lainnya, sehingga terdampat di gurun yang gersang ini. Ia mati menuju akhirat dalam keadaan putus asa kepada semuanya, kecuali kepada rahmat Allah’

Ya, Allah. Jika Engkau putuskan aku dari ibuku,anak-anakku,istriku, maka jangan Engkau putuskan aku dari rahmatMU. Hatiku terbakar karena berpisah dari mereka, maka jangn Engkau bakar aku dengan api MU karena maksiatku.”

Allah kemudian mengirim bidadari-bidadari yang menyerupai ibunya, isterinya, dan anak-anaknya. Juga Allah mengirim malaikat yang menyerupai ayahnya. Mereka semua duduk mengelilingi laki-laki itu dan meratapinya. Lelaki itu menjadi tenang, karena seakan-akan ia dikelilingi oleh ibunya, isterinya, anak-anaknya dan ayahnya.

“Ya Allah. Jangan Engkau putuskan aku dari rahmatMu. Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Kemudian, lelaki itu wafat dengan tenanya, Ia menghadap Allah dalam keadaan bersih karena dosannya terampuni. Allah menurunkan wahyu kepada Musa. “Hai Musa. Pergilah ke gurun. Disana ada salah seorang waliKU wafat. Mandikan, kafani, shalati dia”

Musa segera datang ketempat yang dimaksud. Betapa kagetnya ia menemukan orang yang disebut Allah sebagai waliNya itu

adalah lelaki yang ia usir justru atas suruhan Allah sendiri. Musa melihat ada bidadari di sisi mayat lelaki itu, sedang menangisinya.\

“Wahai Tuhan, Bukankah ini pemuda fasik yang kuusir atas perintahMU?”

“Benar, ya Musa. Aku merahmatinya. Aku ampuni dosanya karena keluhnya waktu sakit, yaitu karena perpisahaannya dengan kampung halamannya, orang tuanya, anak-anaknya dan isterinya. Kukirim bidadari yang menyerupai ibunya, dan malaikat yang menyerupai ayahnya. Juga karena rahmatKu, dimana ia telah terhina dalam keasingannya. Jika orang terasing mati, menangislah penghuni bumi dan langit karena rasa kasihan, Bagaimana aku tidak kasihan padanya? Aku adalah zat yang Maha Kasih Maha Sayang”.

—————————————-

dari berbagai sumber ……..