Pekerja Kayu Tua

14 Februari 2015 Tinggalkan komentar

woodworkerSeorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.

Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta.

Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan. Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu, ” katanya, “hadiah dari kami.”

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

===============================================================================

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.

Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda. Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu.

Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang
papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi.

Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

(adapted from “The Builder”, Unknown, thanks to Cecilia Attal)

“Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri”.

Secangkir kopi di pagi hari

5 Februari 2015 Tinggalkan komentar

kopiSetiap hari setelah bangun tidur dan sebelum memulai kegiatan sehari, aku pasti menyiapkan secangkir kopi. Secangkir kopi yang kental dan pahit. Ketika kerongkonganku dibangkitkan oleh pahitnya kopi kental, isi kepalakupun seakan terlonjat bangun. Tanpa kopi hidupku serasa mati. Ketika minum kopi aku berpikir; ‘Hidupku pun kadang butuh secangkir kopi. ‘Ia butuh pengalaman pahit. Ia harus melewati kegetiran hidup, agar aku bisa mempertimbangkannya secara lebih matang dan mendalam, agar aku bisa mengambil langkah baru dan memberi nilai baru. Hanya dengan itu aku bisa menjadi lebih gigih dan kuat.

Karena itu temanku… janganlah mengeluh saat menghadapi berbagai jenis kepahitan. Jadikanlah itu tepung kopi unggul, yang dimasak oleh pikiran yang matang untuk menghasilkan secangkir kopi kental. Pahit tapi ahh…. enaknya…
——————————————————————————————————————-
Hemmm….sambil menikmati kopiku, kunikmati pula hidup ini.

Musuh Di Dalam Mimpi

5 Februari 2015 Tinggalkan komentar

mimpi burukAda seorang lelaki. Suatu malam ia bermimpi buruk. Dalam mimpinya ia melihat seorang serdadu bertopi putih, bersepatu putih. Di pinggangnya terselip sebilah pedang yang bersarung hitam. Ketika kedua mata mereka berpapasan, serdadu tersebut dengan serta-merta mengeluarkan kata-kata cacian, kata-kata jahat yang sungguh pedas yang ditujukan padanya. Serdadu tersebut juga secara kejam meludahi wajahnya. Sungguh suatu penghinaan yang teramat besar. Selama hidupnya belum pernah ia dihina seperti ini. Ketika bangun pagi, dipenuhi dengan perasaan yang kurang enak ia menceritakan kisah hina yang menimpa dirinya dalam mimpi semalam. ‘Sejak kecil hingga kini saya belum pernah dihina oleh orang lain. Tapi malam tadi, saya bukan saja dihina, bahkan wajah ku pun diludahi. Aku sungguh tidak bisa terima diperlakukan secara demikian. Aku harus menemukan orang ini dan memberikan imbalan yang setimpal.’ Kata lelaki itu penuh rasa benci sambil menggertakan giginya. Sejak itu, setiap hari setelah bangun tidur ia akan berdiri di persimpangan jalan yang ramai dilewati orang, dengan harapan suatu saat bisa menemukan musuh yang dilihatnya dalam mimpi itu. Seminggu, sebulan, setahun kini berlalu. Orang yang dicari itu tak pernah menunjukkan batang hidungnya. Lelaki tersebut telah menghabiskan separuh dari waktu hidupnya hanya demi sesuatu yang tidak nyata. Ia meracuni hatinya sendiri dengan rasa benci hasil ciptaannya sendiri.
——————————————————————————————————————–
– Sering kita menciptakan musuh yang tidak real, dan memupuk kebencian dalam hati yang pada baliknya merupakan racun yang menghancurkan diri sendiri.
– Apakah andapun memupuki kebencian dalam hati anda?
– Ketahuilah: Ketika anda membenci, anda sendirilah yang menjadi korban kebencian anda.

Tarsis Sigho – Taipei

Mungkin Ya, Mungkin Tidak

5 Februari 2015 Tinggalkan komentar

orang_tua_yg_bijakPada jaman dahulu, ada sebuah desa di mana tinggal seorang tua yang sangat bijaksana. Penduduk desa percaya bahwa orang tua itu selalu dapat menjawab pertanyaan mereka atau memecahkan persoalan mereka. Suatu hari, seorang petani di desa itu datang menemui orang tua yang bijak ini dan berkata dengan putus asa, “Pak Tua yang bijaksana, tolonglah saya. Saya sedang mendapat musibah. Kerbau saya mati dan saya tak punya binatang lain yang dapat membajak sawah! Bukankah ini musibah paling buruk yang menimpa saya?” Orang tua yang bijak tersebut menjawab, “Mungkin ya, mungkin tidak.” Petani itu bergegas kembali ke desa dan menceritakan kepada tetangga-tetangganya bahwa orang tua yang bijak itu kini sudah menjadi gila. Tentu saja inilah musibah terburuk yang dialaminya. Mengapa orang tua itu tidak melihatnya?

Baca selengkapnya…

Sang Tikus

28 Januari 2015 Tinggalkan komentar

tikusAda seekor tikus kecil bernama Mimi. Suatu hari ketika pergi ke sekolah, teman-teman kelasnya berteriak mengganggu dan mengolok-oloknya dengan berkata: ‘Hei tikus gembrot.’ Tentu saja Mimi mencucurkan air mata kesedihan karena ia tak tahan menerima perlakuan tak bersahabat dari teman-temanya itu. Namun ia tak pernah membalas dendam. Ia cuma membalas olokan tersebut dengan senyuman khasnya.

Setelah lewat beberapa waktu, keajaiban terjadi. Teman-temannya berhenti mengoloknya. Dengan rasa agak malu Mimi bertanya mengapa mereka tidak lagi mengoloknya. Mereka menjawab: ‘Kami menemukan bahwa engkau adalah orang yang ramah dan tetap bermurah hati walaupun diperolok oleh orang lain. Pada hal teman kelas kita yang lain sudah naik pitam dan marah-marah ketika kami  mengolok mereka dengan olokan yang sama.’
Teman-temannya itu dengan nada penyesalan serta dengan agak cemas bertanya: ‘Bolehkah kita tetap menjadi teman yang baik?’ Sambil melonjat gembira Mimi menjawab: ‘Tentu saja!!!’
Sejak itu Mimi bersama teman-teman yang suka mengoloknya itu menjadi teman yang sangat akrab.

————————————————————————————————————————————-

-.) Jangan pernah menilai orang lain dengan bertolak dari penampakan lahiriahnya.

-.) Bila anda dihina janganlah anda membalasnya dengan hinaan, karena besi bila bertemu besi akan mendatangkan api.

Tarsis Sigho – Taipei
Email:tarsis@svdchina.org

==============================================================================

dari berbagai sumber

Menundukkan Kepala

28 Januari 2015 Tinggalkan komentar

menundukSeorang petinggi pemerintah. Demi meningkatkan pamor pribadinya ia datang mengunjungi seorang guru yang terkenal di daerah itu. Namun malangnya. Ketika ia hendak masuk ke pondok sang guru, kepalanya terbentur menabrak palang pintu yang memang begitu rendah. Kepalanya mengucurkan butir darah dan ia nampak amat
kesakitan sambil berteriak-teriak.

Sang guru setelah memperhatikan petinggi pemerintah tersebut, lalu berseru; “Nampaknya engkau amat kesakitan! Saya pikir ini merupakan hadiah terbesar yang kamu peroleh hari ini. Proficiat!!”

“Apa katamu?? Hadiah terbesar? Tidakkah engkau lihat bahwa darah sedang mengucur turun dari dahiku?” Ujar sang petinggi pemerintah tersebut dengan nada suara yang membumbung tinggi.

“Benar!!!” Jawab sang Guru. “Ketika engkau telah mencapai puncak bukit, engkau harus berusah untuk turun lagi ke kaki gunung tersebut.” Kata sang guru sambil memandang tamu agungnya. Dan….engkau harus belajar menundukan kepala agar agar dahimu tidak tersobek oleh palang pintu lagi.

————————————————————————————————————————————–
-.) Yang meninggikan dirinya, ia akan direndahkan. Sebaliknya, yang merendahkan dirinya ia akan ditinggikan.

Tarsis Sigho – Taipei

Email:tarsis@svdchina.org

===============================================================================

dari berbagai sumber

Penebang Hutan

28 Januari 2015 Tinggalkan komentar

axeDisuatu waktu, adalah seorang pemotong kayu yang sangat kuat. Dia melamar sebuah pekerjaan ke seorang pedagang kayu, dan dia mendapatkannya. Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat bagus. Karenanya sang pemotong kayu memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin. Sang majikan memberinya sebuah kapak dan menunjukkan area kerjanya. Haripertama sang pemotong kayu berhasil merobohkan 18 batang pohon. Sang majikan sangat terkesan dan berkata, “Selamat, kerjakanlah seperti itu!” Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan harinya sang pemotong kayu bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 15 batang pohon. Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon.

Hari-hari berikutnya pohon yang berhasil dirobohkannya makin sedikit. “Aku mungkin telah kehilangan kekuatanku”, pikir pemotong kayu itu. Dia menemui majikannya dan meminta maaf, sambil mengatakan tidak mengerti apa yang terjadi. “Kapan saat terakhir anda mengasah kapak?” sang majikan bertanya. “Mengasah? Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak. Saya sangat sibuk mengapak pohon.”

Catatan:
Kehidupan kita sama seperti itu. Seringkali kita sangat sibuk sehingga tidak lagi mempunyai waktu untuk mengasah kapak. “Pada istilah sekarang, setiap orang lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi lebih tidak berbahagia dari sebelumnya. Mengapa? Mungkinkah kita telah lupa bagaimana caranya untuk tetap tajam? Tidaklah
salah dengan aktivitas dan kerja keras. Tetapi tidaklah seharusnya kita sedemikian sibuknya sehingga mengabaikan hal2 yang sebenarnya sangat penting dalam hidup, seperti kehidupan pribadi, menyediakan waktu untuk membaca, dan lain sebagainya. Kita semua membutuhkan waktu untuk relaks, untuk berpikir dan merenung, untuk belajar dan bertumbuh. Bila kita tidak mempunyai waktu untuk mengasah kapak, kita akan tumpul dan kehilangan efektifitas. Jadi mulailah dari sekarang, memikirkan cara bekerja lebih efektif dan menambahkan banyak nilai kedalamnya, semoga bermanfaat.

=============================================================================

Di sadur secara bebas dari : Sharpen The Axe

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 905 pengikut lainnya.