2012 in review

2 Januari 2013 Tinggalkan komentar

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 10.000 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 17 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Kisah Tentang BIOLA

23 Maret 2012 2 komentar

Kisah Biola dan Segala Sesuatu Yang Tak Dapat Diubah
Niccolo Paganini, seorang pemain biola yang terkenal di abad 19, memainkan konser
untuk para pemujanya yang memenuhi ruangan. Dia bermain biola dengan diiringi
orkestra penuh.
Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya
tapi dia meneruskan memainkan lagunya. Kejadian yang sangat mengejutkan senar
biolanya yang lain pun putus satu persatu hanya meninggalkan satu senar, tetapi dia
tetap main. Ketika para penonton melihat dia hanya memiliki satu senar dan tetap
bermain,mereka berdiri dan berteriak, “Hebat, hebat.”
Setelah tepuk tangan riuh memujanya, Paganini menyuruh mereka untuk duduk.
Mereka menyadari tidak mungkin dia dapat bermain dengan satu senar. Paganini
memberi hormat pada para penonton dan memberi isyarat pada dirigen orkestra untuk
meneruskan bagian akhir dari lagunya itu. Dengan mata berbinar dia berteriak,
“Peganini dengan satu senar.” Dia menaruh biolanya di dagunya dan memulai
memainkan bagian akhir dari lagunya tersebut dengan indahnya. Penonton sangat
terkejut dan kagum pada kejadian ini.
MAKNA: Hidup kita dipenuhi oleh persoalan, kekuatiran, kekecewaan dan semua hal
yang tidak baik. Secara jujur, kita seringkali mencurahkan terlalu banyak waktu
mengkonsentrasikan pada senar kita yang putus dan segala sesuatu yang kita tidak
dapat ubah.

==============================================================
Apakah anda masih memikirkan senar-senar Anda yang putus dalam hidup Anda?
Apakah senar terakhir nadanya tidak indah lagi? Jika demikian, saya ingin
menganjurkan jangan melihat ke belakang, majulah terus, mainkan senar satu-satunya
itu. Mungkinkanlah itu dengan indahnya. Tuhan akan menolong Anda.

Bintang Laut

23 Maret 2012 Tinggalkan komentar

Ketika fajar menyingsing, seorang lelaki tua berjalan-jalan di pinggir pantai sambil
menikmati angin laut yang segar menerpa bibir pantai. Di kejauhan dilihatnya seorang
anak sedang memungut bintang laut dan melemparkannya kembali ke dalam air.
Setelah mendekati anak itu, lelaki tua itu bertanya heran;
‘Mengapa engkau mengumpulkan dan melemparkan kembali bintang laut itu ke dalam
air?’. Tanyanya.
‘Karena bila dibiarkan hingga matahari pagi datang menyengat, bintang laut yang
terdampar itu akan segera mati kekeringan.’ Jawab si kecil itu.
‘Tapi pantai ini luas dan bermil-mil panjangnya.’ Kata lelaki tua itu sambil
menunjukkan jarinya yang mulai keriput ke arah pantai pasir yang luas itu. ‘Lagi pula
ada jutaan bintang laut yang terdampar. Aku ragu apakah usahamu itu sungguh
mempunyai arti yang besar.’ Lanjutnya penuh ragu.
Anak itu lama memandang bintang laut yang ada di tangannya tanpa berkata
sepatahpun. Lalu dengan perlahan ia melemparkannya ke dalam laut agar selamat dan
hidup.
‘Saya yakin usahaku sungguh memiliki arti yang besar sekurang-kurangnya bagi yang
satu ini.’ Kata si kecil itu.
————-
Kita sering mendambakan untuk melakukan sesuatu yang besar, namun sering kali kita
lupa bahwa yang besar itu sering dimulai dengan sesuatu yang kecil.

Belajar Mencintai dari Seekor cicak

23 Maret 2012 Tinggalkan komentar

Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok.
Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari
kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor cicak terperangkap diantara
ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuahsurat. Dia merasa kasihan
sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek surat itu, ternyata surat tersebut telah
ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.
Apa yang terjadi? Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap
selama 10 tahun??? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun,
itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.
Orang itu lalu berpikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun
tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu!
Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan cicak itu, apa yang
dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. kemudian, tidak tahu
darimana datangnya, seekor cicak lain muncul dengan makanan di
mulutnya….AHHHH!
Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor cicak lain yang selalu
memperhatikan cicak yang terperangkap itu selama 10 tahun.
Sungguh ini sebuah cinta…cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan
yang kecil seperti dua ekor cicak itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja
sebuah keajaiban.
Bayangkan, cicak itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti
memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. bayangkan bagaimana hewan yang kecil
itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.
Saya tersentuh ketika mendengar cerita ini. Lalu saya mulai berpikir tentang
hubungan yang terjalin antara keluarga, teman, kekasih, saudara lelaki, saudara
perempuan….. Seiring dengan berkembangnya teknologi, akses kita untuk
mendapatkan informasi berkembang sangat cepat. Tapi tak peduli sejauh apa jarak
diantara kita, berusahalah semampumu untuk tetap dekat dengan orang-orang yang
kita kasihi. JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI!!!

Kisah ini berasal dari Jepang.

Air yang mendidih

23 Maret 2012 Tinggalkan komentar

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan
mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana
menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya
setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.
Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan
menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh
wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di
panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam
dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah.
Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di
mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan
menuangkan kopi di mangkuk lainnya.
Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi”
jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel
itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu
memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia
mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk
mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.
Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?” Ayahnya menerangkan bahwa
ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing
menunjukkan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus,
wortel menjadi lembut dan lunak.
Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa
cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.
Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air,
bubuk kopi merubah air tersebut. “Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya.
“Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu
wortel, telur atau kopi?”
Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi
dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan
kehilangan kekuatanmu.
Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang
dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan
menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit
dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?
Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang
menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat
Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu
seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi
semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.

=================================

dari berbagai sumber ….

Guru kehilangan pengecam

16 Maret 2012 Tinggalkan komentar

Pada suatu ketika adalah seorang ulama yang dihormati orang sebagai seorang yang dekat dengan
Allah. Setiap hari sekelompok orang berdiri didepan pintu rumahnya untuk mencari nasihat,
mengharapkan penyembuhan atau berkat dari orang suci itu. Dan setiap kali ulama itu berbicara, orang orang
itu akan mematuhi ucapannya dan menelan semua kata-katanya.
Namun diantara pendengarnya itu ada orang yang tidak baik yang selalu mencari kesempatan untuk
menentang sang Guru. Ia mencari kelemahan-kelemahan rabbi dan menertawakan kekurangankekurangan
itu. Murid-murid rabbi tidak senang akan dia dan mulai menganggapnya sebagai jelmaan
setan.
Pada suatu hari “setan” itu jatuh sakit dan mati. Semua orang merasa lega. Secara lahiriah mereka
kelihatan berduka cita, akan tetapi dalam hati mereka senang karena kata-kata Guru yang begitu
inspiratif tidak akan diganggu lagi dan tingkah lakunya yang mengandung kecaman tidak akan dikritik
lagi oleh orang yang tidak sopan itu.
Orang-orang terkejut melihat sang Guru tenggelam dalam duka cita sejati yang mendalam pada saat
penguburan. Kemudian ketika ditanya oleh seorang murid apakah ia berduka cita atas nasib kekal
yang mati itu, ia berkata, “Tidak, tidak. Mengapa saya harus berduka cita atas teman kita yang
sekarang ada di surga ? Saya berduka cita untuk diri saya sendiri. Orang itu adalah satu-satunya
kawan saya. Disini saya dikelilingi oleh orang-orang yang menghormati saya. Ia adalah satu-satunya
yang menantang saya. Saya takut sesudah kepergiannya, saya tidak berkembang lagi.” Dan ketika
Guru itu mengucapkan kata-kata ini, ia menangis tersedu-sedu.

===========================================================

dari berbagai sumber ……

Kue

16 Maret 2012 1 komentar

Salah seorang pasien saya, seorang pengusaha yang sukses, bercerita bahwa sebelum terserang
kanker, dia selalu merasa tertekan kecuali semua hal berjalan sebagaimana mestinya. Kebahagiaan
adalah mendapatkan “kue”. Jika kamu mempunyai “kue”, hari menjadi indah. Jika tidak, hidup adalah
kutukan. Sialnya, tidak ada seorang pun yang bisa mendapatkan “kue” setiap hari. “Kue” itu juga
berubah-ubah. Kadang-kadang “kue” itu berbentuk uang, kadang kekuasaan, kadang wanita. Pada
saat lain, ia berubah menjadi mobil baru, kontrak besar, rumah di lingkungan elit, dan sebagainya.
Satu setengah tahun setelah pengusaha itu didiagnosis menderita kanker prostat, dengan sedih dia
berkata, “Saya seakan-akan telah berhenti mempelajari bagaimana cara untuk hidup sejak saya
masih kecil. Ketika saya memberikan kue kepada anakku, dia senang. Jika saya merampas kembali
kue itu darinya, dia akan sedih. Tetapi dia baru berumur dua setengah tahun dan saya sudah empat
puluh tiga. Dibutuhkan waktu yang lama untuk menyadari bahwa ‘kue’ apa pun tidak akan pernah
membuatmu bahagia. Pada saat kamu memiliki ‘kue’ kamu mulai kuatir suatu saat ia akan hilang atau
orang lain akan mencurinya darimu. Kamu tahu, kamu harus memberikan banyak hal untuk menjaga
‘kue’mu. Bahkan kamu mungkin tidak akan sempat memakannya karena kamu sudah cukup sibuk
untuk menjaganya. Mempunyai ‘kue’ bukanlah tujuan hidup.”
Pasien saya itu tertawa dan berkata bahwa kanker telah merubah hidupnya. Untuk pertama kalinya
dia bisa merasa bahagia, tidak perduli apakah bisnisnya berjalan lancar atau tidak, tidak perduli
apakah dia memenangkan permainan golf atau kalah.
“Dua tahun lalu, kanker bertanya padaku, ‘Oke, apa yang penting? Apa yang benar-benar penting?’
Baiklah, yang penting itu adalah hidup. Hidup. Hiduplah dengan segala cara yang bisa kamu miliki.
Hiduplah dengan ‘kue’. Hiduplah tanpa ‘kue’. Kebahagiaan tidak ada hubungannya dengan ‘kue’.
Kebahagiaan berhubungan dengan menjadi hidup.”
Dia berhenti sejenak dan merenung, kemudian melanjutkan:
“Demi Tuhan, saya rasa hidup itu adalah ‘kue'”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 781 pengikut lainnya.